Pages

Senin, 26 Mei 2014

21st Century Teens #7

"Tapi, “pemuda” bukanlah semata soal daftar usia yang di bawah 30-an itu. “Pemuda” itu lebih dicirikan oleh pikiran dan tindakan mereka yang melampaui zamannya"(Shofwan ABCd - selasar.com)

Perkenalkan, kita –aku dan kamu yang merasa- adalah generasi “lemah” abad ini. Kita dilahirkan tak pernah merasakan bagian-bagian yang tercatat dalam pentas sejarah. Kita bukan para generasi yang melakukan sumpah “Pemuda”, juga bukan generasi pelopor kemerdekaan bangsa kita, bukan pula generasi pembela kemerdekaan. Sekadar menyaksikan peristiwa G30S/PKI dan krisis moneter pun tak kita alami.

"Kita ini belajar, dalam gedung yang didirikan di atas darah, nanah, dan keringat rakyat. Tegakah, sampaikah hatimu, jika setiap intelektualitas, ilmu dan fasilitas itu hanya kau gunakan untuk mencari kenikmatan hidupmu sendiri. Hanya berpikir tentang prospek kerja dan berapa gajinya.” (Obrolan, Jum’at 9 Mei 2014)

Seorang dosen pernah mengajar dihadapan Mahasiswanya, “Kamu kuliah untuk apa?”, “Untuk dapat kerja pak.”, “kamu setelah dapat kerja terus apa?” , “Biar bisa kawin pak”, “oooh, berarti kesimpulannya kuliah itu tujuannya untuk kawin ya?”. Sontak seisi kelas gaduh dengan suara tawa mahasiswa. Di atas sebuah kursi, sepasang mata terdiam, “siapa kita?”. Inilah kita yang hidup sebagai generasi zaman ini.

Ada yang kemudian “galau” sejak dahulu, ada juga yang mulai “galau”, serta ada yang tenang-tenang saja mengamini kondisi ini, melanjutkan perjalanan hidup. Work hard Party Harder. Apakah kita sedang terbuai dengan asas ini? Kuliah sekeras-kerasnya, bekerja dengan gaji fenomenal, dan melampiaskan kepenatan dengan gemerlap malam dengan hiburan-hiburan yang dijajakan.

***



***

Perkenalkanlah kami –aku dan kamu yang akan bergabung- yang telah memutuskan, melakukan Revolusi. Perubahan adalah tabiat dari alam jagad raya, maka kita adalah bagian dari perubahan.

***

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya.
Jika Kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, maka hal itu dikarenakan generasi pertama adalah ‘pelopor’, generasi kedua ‘pengikut’, generasi ketiga ‘penerus tradisi’, sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi. (Syamsyudin dalam Orientalis, 2008 dikutip dari Ibnu Khaldun dalam Muqadimah)

“Sebuah kejayaan suatu peradaban akan dipergilirkan. Saat ini dibelahan bumi bagian sana, sedang terjadi ‘Silver Tsunami’, suatu kondisi dimana para orang-orang berambut putih menjadi dominasi dari demografi suatu bangsa” (Jazir ASP, dalam diskusi Stadium General Mentoring)

Kita dalah generasi abad ini, yang mewarnai bangsa ini menjadi harapan sebuah ‘perubahan’. Jumlah kita begitu banyak, saatnya kita tersadar bahwa Kulliah ( atau hidup) bukan untuk kawin, bukan untuk berpesta pora dalam gemerlap dunia, namun kehampaan menjadi pengisi dalam jiwa-jiwa kita. Kita bukan mayat berjalan.

***

Dengan mudah dapat kita lihat di toko buku, semakin banyaknya tulisan-tulisan dan buku-buku baru, termasuk tentang arsitektur dan perkotaan Negara berkembang, yang mereka terbitkan. Kita hanya bisa meneguk air liur saja. Apa mau dikata, memang budaya kita masih terpancang budaya lisan. Lebih senang banyak berbicara daripada terjun ke lapangan, meneliti kemudian menulis di ruang kerja atau perpustakaan, untuk dimasyarakatkan sebagai pertanda pengamalan ilmu dan pengilmiahan amal. Tudingan Dr. Istiati Soetomo bahwa kebanyakan sarjana kita mengidap penyakit “cultural laziness”,  termasuk kemalasan menulis, memang jadi agak sulit untuk disanggah. ( Eko dalam Perkotaan, 1987)

Seorang mahasiswa bertanya kepada sang dosen, “Bu, kenapa yang menjadi nama-nama dari tokoh yang akan kita bahas semua namanya asing, hanya beberapa saja yang tidak asing pengejaannya?”, “Sungguh banyak hal yang bisa kit dapatkan di negeri kita ini. Tetapi sayang tak ada (atau hanya sedikit) manuskrip-manuskrip yang bisa menjadi rujukan bagi kita. Semangat menulis bangsa kita masih kurang dibandingkan dengan bangsa mereka. Mahasiswa semester tiga di sini, dibandingkan dengan mahasiswa semester tiga di sana tentu juga beda kan semangat menulisnya? “.

Dulu, seorang ulama bisa memiliki bisa memiliki buku yang jumlahnya ratusan ribu . Di sebuah kota memiliki sekurangnya  30 sampai 40 perpustakaan umum, dan seorang saudagar kaya akan bangga apabila di rumahnya terdapat perpustakan yang dikunjungi oleh orang. Tradisi Ilmu luar biasa. Toko-toko buku jumlahnya ratusan. Orang-orang yang suka mengkopi buku dengan cara menulis jumlahnya ribuan. Tradisi ilmu mewarnai peradaban islam pada waktu itu. Segala persoalan diselesaikan dengan cara menulis. (Hamid Fahmi, dalam pidatonya di Youtube)

***

“ Manusia itu ibarat logam mulia (seperti emas dan perak). Yang terbaik di masa jahiliyyah, akan menjadi terbaik di masa islam, jika mereka berilmu.” Hadist Riwayat Bukhori no 1238).
Kita adalah emas dan perak. Generasi kita emas dalam memainkan game, membaca komik, memikat lawan jenis untuk dipacari, menghambur-hamburkan uang orang tua, membuang waktu di sudut-sudut kota dengan merokok dan minum, bermain game online berhari-hari, beradu otot hingga menumpahkan tetesan hingga kucuran darah.

Kita adalah logam mulia. Yang terbaik dimasa kegelapan akan menjadi terbaik dalam masa penuh semburat cahaya, dengan ilmu. Kita dalah terbaik. Saatnya menjadi bagian solusi. Perubahan adalah tabiat dunia ini. Saatnya kita siapkan segala sesuatu.

***

Siapa kita? Kita adalah penjahat. Penjahat dari para penjahat. Karena musuh dari musuhku adalah kawan. Maka kita penjahat yang menjadi kawan pendekar pembela kebenaran. Kita akan terus bergerak dalam walau dalam kesunyian, walau dalam rasa pahit, walau rasa berat. Suatu hari mereka akan bertanya. “Siapa kamu?”, “ kita? Para penjahat dari para penjahat.”


***

Tamat tulisan ini. Dari mereka yang gelisah, semoga engkau juga tertular. 



Rujukan:

Arif, Syamsuddin.2008. Orientalis & Diabolisme Pemikiran.  Jakarta: Gema Insani Press

Budiharjo, Eko. 1987. Percikan Masalah Arsitektur Perumahan Perkotaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar: